Sunday, 19 May 2013

Pempek Juga Punya KETURUNAN Loh!

Salam spesial buat kawan-kawan dari Wong Palembang hehe..

Dan kalo sudah ngomongin Palembang, saya yakin fikiran kawan-kawan langsung tertuju dengan makanan yang satu ini, yap, Pempek atau orang Jakarta lebih sering ngomong Empek-Empek, well agak sedikit aneh di telinga yang asli orang Palembang. Heheh..

Mungkin beberapa kawan-kawan sedikit bosen kalo ngebahas kuliner dari kota yang dibelah oleh sungai Musi karena lagi-lagi pempek lagi-lagi pempek, tapi tenang, kali ini saya tidak akan membahas jenis-jenis pempek yang notabene masyarakat Indonesia sudah pada tahu seperti pempek adaan, pempek telor, pempek keriting, dan pempek kapal selam, tapi saya akan mengajak kawan-kawan ngobrolin tentang makanan-makanan turunan dari pempek yang oleh banyak orang belum begitu banyak di kenal seperti tekwan, model, pempek lenggang, pempek panggang, dan celimpungan. Tapi sebelumnya, mari kita lihat dulu sejarah dari pempek.

Sejarah Pempek
Simplenya begini, dulu sewaktu ikan masih sangat sangat sangat ssannggaaaat melimpah di Palembang, saking melimpahnya sampai-sampai masih banyak ikan-ikan yang tersisa walaupun masyarakat yang tinggal di pesisir sungai musi sudah banyak menggunakan ikan sebagai lauk pauk. Melihat keadaan seperti ini, daripada ikan-ikan ini terbuang sia-sia, maka ada seorang keturunan cina yang akhirnya mendapat ide untuk membuat suatu olahan ikan yang baru, yang sebelumnya belum ada di masyarakat.

Akhirnya diolahlah ikan itu dengan dicampurkan dengan tepung terigu, dibuatlah adonan ikan+tepung terigu, lalu direbus atau digoreng. Setelah olahan ikan itu selesai, dijual lah secara keliling oleh orang keturunan cina tersebut, dan ternyata masyarakat Palembang sangat menyukainya.

Karena di Palembang sapaan akrab untuk orang-orang keturunan Cina adalah apek, maka setiap masyarakat hendak membeli olahan ikan tersebut, mereka memanggil orang keturunan Cina tersebut dengan panggilan apek. Ilustrasinya sperti ini : “Pek.. Pek.. Apek..” Nah dari sapaan apek itulah akhirnya olahan ikan tersebut dikenal dengan nama Pempek :)

Turunan Pempek
Nah setelah ngobrolin sejarah pempek, sekarang waktunya kita ngobrolin turunan-turunan pempek. ‘Mereka’ ini lahir dari kreativitas masyarakat Palembang dalam menyajikan pempek. Oh iya, tolong buat kawan-kawan yang belum kenal dengan makanan-makanan turunan pempek ini, tolong siapin tissue, takutnya air liurnya pada kemana-mana

1. Tekwan
Tekwan adalah pempek yang dibentuk dengan ukuran yang kecil, kira-kira seukuran jempol. Istilahnya tekwan itu bakso, tapi berbahan dasar ikan. Disajikan dengan bihun lalu disiram dengan kuah kaldu ikan dan kaldu udang. Dan biasanya biar lebih nikmat, diambah kecap dan sedikit sambel. Beeuuhhhh... Nih saya kasih lihat wujudnya tekwan
 tekwan
Sumber gambar: www.resepmasakanvera.blogspot.com

2. Model
Nah saya harap kawan-kawan jangan salah fokus, ini bukan model yang lenggak lenggok di catwalk, tapi ini adalah model yang bisa dimakan. Well, model dan tekwan tidak terlalu berbeda, yang membedakannya adalah model itu adalah pempek tahu dalam ukuran sedang yang dipotong-potong lalu disiram kuah kaldu ikan atau kaldu udang, ditambah bihun, dan juga biasanya ditambahkan kecap, persis dengan tekwan. Nih penampakan model
 model
Sumber gambar: www.modelindo.wordpress.com 

3. Pempek Panggang
Nah ini adalah salahsaru bentuk penyajian pempek yang anti-mainstream. Kenapa saya bilang begitu? Karena biasanya pempek itu direbus dan atau digoreng, yang ini malah dipanggang. Bahannya sama persis dengan pempek-pempek yang lain, tapi yang ini dipanggang, lalu bisa disajikan polos atau dibelah sedikit lalu diisi ebi dan kecap, dan juga ditemani cuka tentunya. Mantep deh pokoknya :) Nih bentuk pempek panggang
 pempek panggang
Sumber gambar: www.tiraikasih.tripod.com

4. Pempek Lenggang
Nah ini yang unik, pempek lenggang adalah adonan pempek yang diaduk dengan kocokan telur, lalu dipanggang dengan beralaskan wadah dari daun pisang. Pempek lenggang disajikan dengan potongan-potongan ketimun dan cuka dan kadang juga dikasih taburan ebi. Nih biar kawan-kawan biar bisa lebih menghayati bagaimana rasanya lenggang, saya kasih lihat wujud pempek lenggang
lenggang
 sumber gambar: www.nationalgraphic.com

5. Celimpungan
Celimpungan adalah pempek polos (pure campuran ikan dan tepung terigu, tanpa isian) yang kurang lebih seukuran dengan bakso urat, dimasak dengan kuah santan kuning atau pun kuah santan pedas. Pokoknya ini penyajian pempek yang berbeda. Mau tahu bagaimana wujudnya? Nih saya kasih lihat
 celimpungan 1
Sumber gambar: www.kangzusi.com
 celimpungan 2
Sumber gambar: www.lhieen.blogspot.com

Kandungan Gizi
Lalu bagaimana dengan kandungan gizi dari turunan-turunan pempek ini? Well, saya memang bukan pakar gizi, tapi kalo kita lihat dari bahan dasar utama pembuat pempek, yaitu ikan dan tepung terigu, tentu kita kita tidak bisa anggap sepele. Kita bahas kandungan nya satu per satu.
  • Karbohidrat, dari tepung terigu
  • Protein, dari ikan, ebi (pada pempek panggang dan pempek lenggang), dan kaldu ikan atau kaldu udang (pada kuah tekwan dan model)
  • Vitamin A, B, C, dari cabai dan gula merah (bahan cuka)
  • Zat besi dan kalsium, dari gula merah (bahan cuka)
  • Kalsium dan lemak, dari santan (bahan kuah celimpungan)
Demikian kurang lebih kandungan gizi yang dimiliki oleh pempek, tentu akan lebih bermanfaat lagi kalo kita santap dalam keadaan komplet biar manfaat karbohidrat, protein, mineral, dll bisa kita serap . Tapi tetap jangan lupa, kandungan-kandunagn gizi tersebut bakalan sia-sia kalo kita konsumsi dalam jumlah yang berlebihan :)

Oh iya, mungkin belum banyak kawan-kawan yang belum pernah mencicipi salahsatu dari makanan di atas, jadi insya Allah bakal saya bawain salahsatu dari makanan diatas sebelum kita berangkat ke Kepulauan Seribu nanti hehe.

Sekian deh, wassalam :)


 Jelajah Gizi 2

Thursday, 16 May 2013

(Dan) Demi Waktu

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)
Asslamaualaikum, apa kabar semuanya?
Heemmm, kali ini obrolannya kita awali dulu dengan surat yang selalu kita baca selesai pelajaran sewaktu SD. Mungkin tidak semua, tapi saya yakin mayoritas anak-anak SD melakukan hal ini.
Mungkin sewaktu SD dulu kita masih asal membaca surat ini, sekedar formalitas tanpa tahu tujuannya. Dan biasanya juga guru2 juga tidak memberi tahu kita tujuan membaca surat ini menjelang pelajaran di sekolah selesai.
Tapi makin kesini, saya (dan saya yakin kawan-kawan yang lain) mulai paham apa sebenarnya tujuan dari kegiatan yang kita lakukan setelah kegiatan di sekolah selesai ini. Dan oleh karena itu, kali ini izinkan saya sharing sedikit opini saya mengenai tujuan membaca surat ini ketika pelajaran di sekolah selesai.

 
sumber gambar: sharifahilyana.blogspot.com
Menurut saya surat ini menyatakan betapa pentingnya waktu itu di kehidupan kita. “Demi Masa” Masa muda kita akan terasa sia-sia kalo lebih banyak waktu yang kita habiskan itu untuk hal-hal yang tidak berguna. Masa tua kita pun juga bakalan terasa sia-sia kalo kita habiskan hanya untuk menyesali kesalahan-kesalahan yang kita perbuat di masa muda.
Dan kalo sudah di masa muda dan masa tua kita habiskan untuk hal-hal yang tidak berguna, KLOP sudah berarti dapat disimpulkan Kalo keseluruhan waktu kita didunia penuh dengan kesia-sian, Dan kalo itu memang benar-benar terjadi (na’udzubillahi min dzalik), apa yang tertulis di surat al-‘Asr itu terbukti; “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”
Tapi tenang, kita masih bisa kok menghindari kerugian itu. Yaitu dengan cara memanfaatkan waktu – masa muda dan masa tua – kita dengan sebaik-baik mungkin, memanfaatkannya dengan hal-hal yang positif buat kita dan juga buat yang lain.
Caranya ada di ayat yang ketiga. Cara yang pertama yaitu beriman. Beriman pada Allah dan 5 rukun iman yang lainnya. Kenapa iman itu sangat penting? Karena dengan imanlah kita bisa bertahan. Dengan beriman, kita berani bercita-cita yang tinggi, berani bermimpi yang besar, berani berharap untuk sesuatu yang luas.
Saya yakin, semua kita sering berhadapan dengan kegagalan. Gagal lulus SNMPTN, gagal berbisnis, gagal dalam kompetisi dll, tetapi saya percaya ketika kegagalan itu datang, mayoritas kalimat yang keluar pasti  gw yakin, Allah punya rencana lain yang jauh lebih indah buat gw” dan keyakinan (iman) itulah yang pada akhirnya menjauhkan dari penyesalan yang berlarut sehingga waktu kita tidak akan habis hanya karena meratapi kegagalan.
Cinta itu buta. Tapi percayalah, keyakinan (iman) itu jauh lebih buta.
Kita mungkin masih bisa hidup seminggu tanpa makan. Tapi percayalah, kita tidak akan bisa hidup sedetik pun tanpa harapan, cita-cita, mimpi, keimanan.
Cara yang kedua adalah beramal shaleh. Beramal shaleh itu bukan sekedar sholat dan puasa (tapi tetap sholat dan puasa bagian dari amal shaleh), tapi jauh lebih luas lagi. Beramal shaleh itu bisa kita artikan berbuat baik yang semata-mata kita lakukan karena Allah. Kita belajar, menulis, membaca, menolong sesama manusia dan memantaskan diri untuk meraih cita-cita pun lagi-lagi karena Allah. Semua itu kita lakukan karena Allah memang memerintahkan kita untuk itu.
Bahkan twitteran dan facebookan pun bisa jadi amal shaleh kalo tujuan kita adalah untuk sharing ilmu bukan cuman untuk nyampah di TL. Heheh
Cara yang ketiga adalah saling menasehati. Kelemahan dari kita adalah sering lupa dan sering berkeluh kesah. Rasulullah bersabda “Manusia itu tempatnya salah dan lupa” dan Allah juga berfirman “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" (QS al-Ma’arij: 19).
 Oleh karena itu biar kita cepat sadar memahami kesalahan kita dan bisa move on lalu kembali semangat, kita perlu untuk saling menasehati baik dalam kebaikan maupun dalam hal kesabaran. In my opinion, manusia itu bukan hanya butuh mencintai dan dicintai, tetapi juga berhak dimotivasi dan wajib memotivasi
Saling menasehati akan menjauhkan kita dari sifat berkeluh kesah yang ekstrem, sometimes mengeluh itu wajar, tapi kalo sudah over? Apa mau didunia ini kita mengalami kerugian hanya gara-gara menghabiskan waktu untuk mengeluh?
Jadi, kesimpulannya kita membaca surat al-‘Asr setelah kegiatan di sekolah habis, semata-mata untuk mengingatkan kita untuk selalu memanfaatkan waktu kita untuk hal-hal yang positif. Karena pada akhirnya hidup kita ini bakalan sia-sia kalo selama waktu yang telah Allah berikan ini kita habiskan tanpa iman, saling mensupport, saling motivasi, dan bermanfaat bagi sesama manusia juga penghuni seluruh alam semesta yang lain.
Well, sekian dulu sharingnya. Semoga kita semua bisa mendapatkan manfaat. Amin :)
Wassalam

Friday, 3 May 2013

Belajar dari WC


Assalamualaikum,
Bagaimana kabarnya buat kawan-kawan yang sudah bersedia meluangkan waktunya buat baca postingan kali ini? Baik? Alhamdulillah kalau begitu.

Nah, untuk membuka tulisan kali ini, saya sedikit mau sharing ilmu yang saya dapat setelah membanca tulisan pak Jamil Azzaini di www.jamilazzaini.com tentang penyakit BEJ. Dan itu adalah salahsatu atikel favorit saya, karena setelah membaca artikel tersebut saya jadi tahu hal-hal apa yang harus saya tinggalkan kalo saya tidak mau menjadi seorang looser. Penyakit BEJ itu adalah Blaming (suka menyalahkan) Excuses (suka membuat-buat alasan) dan yang terakhir adalah Justify (suka melakukan pembenaran).

Kali ini saya mau membahas penyakit yang cukup sering kita lakukan, yaitu Justify. Penyakit ini sangat berbahaya karena apabila kita sudah terjangkit penyakit ini, kita akan suka mencari pembenaran dari suatu kesalahan yang kita perbuat, yang akhirnya akan membuat kita menjadi orang yang tidak mau mengakui kesalahan.

Salahsatu gejala penyakit Justify ini menurut saya adalah suka mengeneralisir suatu hal dan melihat dari satu sisi yang kira-kira bisa ‘menguntungkan’ kita. Dan hal yang lumayan sering kita generalisir-kan sebagai seorang muslim itu adalah sholat.

Contohnya kalimat seperti ini, “Ah, masih banyak kok yang tidak sholat tapi kelakuannya baik, malah diluaran masih banyak yang sholat tapi maksiat juga lanjut” dengan ngomong seperti itu, kita jadi punya alasan untuk tidak mendirikan sholat, karena langsung mengeneralisir semua orang yang sholat lau asal menyimpulkan bahwa sholat itu tidak penting karena sholat tidak selamanya membuat kita baik, kalo kita berstatement seperti itu, berarti kita lupa dengan ayat ini "..Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar.." (QS 24: 45)

 Ataau kita sengaja lupa kalo diluaran situ jauh lebih banyak orang yang sholat dan kelakuannya ssaannggaattt baik.

Sangat menyedihkan, kita yang seorang muslim masih sangat suka mencari pembenaran untuk tidak melakukan kewajiban yang satu ini. Saya percaya, hubungan sholat dan kelakuan baik itu berbanding lurus. Saya yakin, orang yang sholat pasti kelakuannya baik, dan seorang muslim yang berkelakuan baik pasti sholatnya bagus. Kalo pun statement saya belum sepenuhnya terbukti. itu inggal masalah komitmen dan kinsistensi orang yang mendirikan sholat itu.

Nah sekarang biar kita tahu kalo sholat dan berkelakuan baik itu berbanding lurus, mari kita ke WC.


 sumber gambar : p-watashi.blogspot.com

Coba kita lihat WC. Dari WC kita bisa mendapatkan pelajaran. Tapi kenapa harus WC? Ya karena WC itu adalah salahsatu tempat yang penting buat saya di kampus, karena setiap setibanya saya di kampus, pasti saya mampir ke WC dulu. Dan tanpa sadar, semakin kesini saya sadar ada pelajaran hidup yang bisa saya peroleh. Heheh. Tapi sebelum menarik kesimpulan, mari kita lihat, ada apa dengan WC.

WC itu tempatnya buang air (maaf, buang kotoran) dan yang namanya tempat buang kotoran berarti kemungkinan WC itu jadi tempat yang kotor itu sangat besar.

Tapi, namanya juga masih kemungkinan, sebesar apapun kemungkinan itu, kemungkinan untuk meminimalisir kemungkinan itu tetap ada. Lalu bagaimana agar kemungkinan WC menjadi tempat yang kotor itu  menjadi kecil alias menjadi tempat yang bersih? Ya caranya adalah menyiram closet setelah kita buang air. Tapi apakah cukup hanya dengan menyiram kloset setelah digunakan bisa membuat WC menjadi bersih?
Oke, dengan cuman modal menyiram, WC bisa bersih, tapi coba perhatikan, pasti bersihnya belum sempurna karena tentu ngomongin kebersihan WC itu tidak melulu soal kebersihan kloset, tapi juga menyangkut kebersihan bak air, lantai dan dinding kamar mandi.

Lalu apa selanjutnya? Ya tentu selain selalu menyiram kloset setelah menggunakan, tentu kita juga mesti rajin menyikat WC secara keseluruhan seperti bak air, lantai dan dinding WC, dan tentunya juga kloset. Setidaknya ya satu minggu sekali. Kalo dua hal itu sudah kita lakukan, insya Allah kebersihan WC kita akan selalu terjaga. Tapi yang mesti kita garis bawahi, tidak ada WC yang mutlak bersih

Nah, pelajaran yang bisa kita ambil adalah, kita ini ibarat WC karena memang kita ini tempatnya salah dan lupa. Tapi apakah kita tidak bisa meminimalisir hal tersebut? Tentu sangat bisa. Caranya adalah selalu berbuat baik dan tentunya sebagai seorang muslim juga menjaga sholatnya.

Kalo kita ibarat WC, berbuat baik itu ibarat menyiram kloset, dan menyikat WC itu ibarat sholat. Kenapa berbuat baik itu ibarat menyiram kloset? Ya karena berbuat baik itu tidak ada jadwalnya, tidak ada istilah berbuat baik itu  minimal 3x sehari. Ibarat menyira kloset, kalo habis kita pakai, ya kita siram. Begitu juga berbuat baik, kalo ada yang perlu kita tolong ya kita tolong.

Dan sholat ibarat menyikat WC, karena kita tidak perlu setiap habis menggunakan WC, lantas kita langsung menyikat WC. Sholat itu terjadwal, minimal 5x sehari. Dan bisa lebih kalo kita mau menambahnya dengan sholat sunnah yg lain, itupun tetap ada waktu-waktu tertentu.

Nah hubungan menyikat WC dan menyiram kloset itu juga berbanding lurus seperti hububungan sholat dengan berbuat baik. Kalo orang sudah rutin menyikat WC, biasanya pasti juga tidak akan membiarkan WC jadi kotor gara-gara hal yang sepele, seperti malas nyiram kloset sehabis menggunakannya. Dan begitu juga dengan menyiram kloset, pasti sering juga kepikiran, kan nanggung juga kalo cuman sekedar nyiram kloset, keenapa tidak sekalian dengan menyikat WC, toh dengan satu seminggu sekali juga cukup.

Jadi sekarang tinggal kita tanyakan ke diri masing-masing. Apakah kita sudah merasa cukup cuman dengan ‘menyikat WC’? Atau apakah cuman dengan ‘menyiram kloset’ kita sudah merasa diri kita baik? Kalo kita bisa melakukan kedua-duanya, kenapa kita mesti sudah merasa cukup dengan melakukan salahsatu dari keduanya?

Terakhir, tidak ada satu pun WC yang bebas dari kuman, begitu juga kita yang tidak ada satu pun yang bebas dari berbuat kesalahan. Walaupun di dunia ini tidak ada satu pun individu yang baik seutuhnya baik tapi dengan memilih ‘menyikat WC’ dan ‘menyiram kloset’ setidaknya kita sudah on track menjadi individu yang baik. Tapi bagaimana kita memastikan on track buat menjadi orang yang baik, kalo ‘menyikat WC’ dan ‘menyiram kloset’ tidak kita lakukan, bukan?

Sekian dulu, maaf jika ada kata-kata yang berlebihan.
Wassalam :)

Friday, 26 April 2013

Kuis dan Kematian



Assalamualaikum,
Alhamdulillah akhirnya weekend kali ini diberi kesempatan buat nulis.
Sering kita kaget, orang yang beberapa waktu lalu ngobrol dengan kita, bercanda dengan kita dan dalam kondisi yang sehat, tiba-tiba kita mendapatkan kabar bahwa dia telah meninggal. Sering kita kaget dikarenakan kabar duka meninggalnya teman kita yang jelas umurnya muda sekali. Sering kita dikagetkan kabar duka pada saat kuliah bahwa dosen di kampus kita yang terkenal humoris tahu-tahu sudah dipanggil oleh-Nya. Ya, seringkali kita dikagetkan dengan kabar duka yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Kadang malah yang dipanggil duluan oleh Allah adalah orang-orang yang sehat, yang masih sangat muda, dll.
Kematian itu pasti akan datang. Setiap yang bernyawa sudah ditetapkan oleh Allah akan mati. Yang tidak pasti itu adalah kapan ajal akan menjemput kita.
"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surg, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS.Al Imran:185).


sumber gambar: assunnahfm.com 
Well, ngomong-ngomong tentang ajal atau kematian. Sebagai makhluk Allah yang masih berstatuskan mahasiswa, saya akan menganalogikannya dengan kuis. Disetiap perkuliahan, biasanya dosen akan memberikan kuis kepada mahasiswanya sebagai salahsatu penilaian mereka. Biasanya kuis ini biasanya dibagi menjadi dua, yaitu kuis yang memang sudah ditetapkan jadwalnya oleh dosen, dan yang kedua adalah kuis yang jadwalnya dirahasiakan oleh dosen atau yang bersifat mendadak.
Pernah mendapat kalimat seperti ini dari dosen: “..Sebagai salahsatu penilaian untuk kalian di semester ini, saya juga akan memberikan kalian kuis. Yang jelas silahkan kalian persiapkan diri kalian masing-masing karena saya tidak akan memberi tahu jadwalnya kapan, bisa minggu depan, bisa sebelum UTS, dsb..
Setiap mahasiswa, saya yakin pasti pernah bertemu dengan dosen yang suka memberikan kuis mendadak. Tapi tanpa kita sadari, kita bisa belajar dari kondisi ini. Kuis mendadak mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri atas untuk sesuatu hal yang tidak pasti, salahsatunya adalah perihal kematian.
Kuis yang tidak pasti, setidaknya dapat ‘memaksakan’ kita untuk belajar. Bukan semata-mata untuk sekedar menambah ilmu, tetapi juga agar ketika kuis tersebut dilaksanakan kapan pun itu, kita yang mahasiswa dapat menghadapinya dengan senyum karena jauh-jauh hari sebelum kuis dilaksnakan kita sudah mempersiapkannya. Istilahnya begini “..belajarlah kamu seolah-olah kuis akan dilaksanakan esok hari..”. Jika bekal kita sudah siap, tentu  kita bisa menghadapi kuis itu, sehingga akan berpengaruh baik terhadap nilai kita di akhis semester.
Berbeda kalo kita menyikapinya dengan santai. Semakin sering kita yakin bahwa kuis tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat, semakin lengah kita. Sehingga ketika kuis dilaksanakan tiba-tiba kita hanya akan bisa menyesal karena tidak ada persiapan satu pun yang kita lakukan. Dan tentunya karena kita tidak melakukan persiapan apapun untuk menghadapi kuis, akibatnya kita tidak bisa menjawab satu pun soal, dan tentunya akan berpengaruh buruk untuk nilai kita diakhir semester.
Bagitu juga dengan kematian, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan ajal mereka akan datang. Allah hanya memberi tahu kita, bahwa yang bernyawa pasti akan mengahadapi kematian, tapi jadwal kematiannya ‘dijual terpisah’. Yang bisa kita lakukan hanya menyiapkan bekal untuk terus berbuat baik sembari meminimalisir dan menghilangkan kebiasaan yang buruk.
Kita tidak bisa berbuat apa-apa soal kematian kecuali hanya menyiapkan bekal. Apakah tidak takut ketika kematian itu datang, ternyata bekal kita belum siap dibawa atau yang lebih parah kita belum melakukan apapun untuk menyiapkan bekal? Semakin sadar kita bahwa kematian itu tidak pasti jadwalnya, semestinya semakin banyak pula bekal yang kita siapkan.
Namun semakin kta mengagap kematian tidak akan dalam waktu dekat, tentu akan membuat kita lengah sehingga ketika ternya ta kematian itu datang kita hanya bisa menyesal karena nol bekal. Mungkin untuk kuis kita bisa mengajukan remidial kepada dosen, tapi apakah kita bisa mengajukan reinkarnasi kepada Allah?
Rasulullah SAW bersabda: “Taubatnya seorang hamba dapat diterima selama napasnya belum sampai di ujung tenggorokan..”
Semoga mulai dari sekarang kita bisa menyiapkan bekal mumpung kita masih bernafas, mumpung nafas belum sampai di ujung tenggorokan kita. Karena tentu apalagi yang bisa kita perbuat bila lembar pertanyaan dan lembar jawaban dibagikan, kecuali menjawab semua psoal atau menyesal karena sudah tidak ada waktu lagi untuk belajar.
Rasulullah SAW  bersabda “Bekerjalah untuk kehidupan duniamu, seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Bekerjalah untuk kehidupan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok” (HR. Ibnu Asaakir).
Wassalam :)